Teori Belajar Kognitif

TEORI BELAJAR KOGNITIF

 

  1. A.    PENDAHULUAN

Teori ini menekankan arti penting proses internal manusia. Tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. Semua bentuk perilaku termasuk belajar didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tigkah laku itu terjadi. Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya, yang tertata dalam bentuk struktur kognitif yang disambungkan dengan proses belajar.

  1. B.     TEORI GESTALT

Teori Gestalt dicetus oleh Max Wertheimer, Koffka, dan Wolfgang Kohler. Teori ini meletakkan konsep pada insight, yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan (sering diungkapkan dengan pernyataan “aha”). Para pengikut teori gestalt berpendapat bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.

 

  1. C.    TEORI KONSTRUKTIVISTIK

Teori ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Teori Gestalt. Perbedaannya adalah gestalt memunculkan permasalahan dari pancingan eksternal, sedangkan konstruktivistik memunculkan permasalahan dari pengetahuan yang rekonstruksi (pembaharuan kembali) sendiri oleh individu. Teori konstruktivistik meyakini bahwa individu mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya, menyelesaikan dan membuat konsep keseluruhan pengalaman realistic dan teori dalam satu bangunan utuh.

 

  1. 1.      JOHN DEWEY (1856 – 1952)

Ia berpendapat bahwa belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri, topic dalam kurikulum seharusnya saling terintegrasi bukan terpisah atau tidak mempunyai kaitan satu sama lain. Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa dalam konteks pengalaman sosial. Kesadaran sosial menjadi tujuan dari semua pendidikan. Belajar membutuhkan keterlibatan siswa dan kerjasama tim dalam mengerjakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator, diadakan diskusi dan review teman. Dewey juga menyarankan penggunaan media teknologi sebagai sarana belajar.

  1. 2.      JEAN PEAGET (1896 – 1980)

Menurut piaget, pengamatan sangant penting dan menjadi dasar dalam menuntut proses berpikir anak , berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan semua indra, menimpan kesan lebih lama dan menimbulkan sensasi yang membekas pada siswa. Oleh kerena itu dalam belajar di upayakan siswa harus mengalami semdiri dan terlibat langsung secara realistik dengan obyek yang dipelajarinya, belajar harus bersifat aktif dan sosial.

 

  1. 3.      JEROME BRUNNER (1915 – ….)

Menurut Brunner, belajar adalah proses bersifat aktif  terkait dengan ide  Discovery Larning yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungan  melalui eksplorasi dan manipulasi obyak. Teori ini menyatakan  bahwa cara terbaik  bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siwa adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu.

 

  1. 4.      LEV VYGOTSKY (1896 – 1934)

 

 

  1. D.    APLIKASI TEORI KOGNITIF TERHADAP PEMBELAJARAN SISWA

Misi dari pemerolehan pengetahuan melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh, menganalisis dan mengelola informasi dengan cermat serta kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran didesain lebih berpusat pada peserta didik, bersifat analitik dan lebih berorientasi pada proses pembentukan pengetahuan dan penalaran.

Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif adalah sebagai berikut :

  1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
  2. Menyediakan berbagai alternatife pengalaman belajar, tiadak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
  3. Mengintergasikan pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnyauntuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
  4. Mengintegrasi pembelajaran sehingga memunggkinkan terjadi transmisi sosial yaitu terjadinya interkasi dan kerja sama seseorag sengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru dan siswa-siswa.
  5. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
  6. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

by: Pangih E.C Luki, dkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: